ASMA
A. Definisi
Penyakit Asma berasal dari kata “Ashtma”
yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti “sukar bernafas”. Penyakit asma
merupakan proses inflamasi kronik saluran pernapasan yang melibatkan banyak sel
dan elemennya. Proses inflamasi kronik ini menyebabkan saluran pernapasan
menjadi hiperesponsif, sehingga memudahkan terjadinya bronkokonstriksi, edema,
dan hipersekresi kelenjar, yang menghasilkan pembatasan aliran udara di saluran
pernapasan dengan manifestasi klinik yang bersifat periodik berupa mengi, sesak
napas, dada terasa berat, batuk-batuk terutama pada malam hari atau dini
hari/subuh (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2015)
B. Prevalensi
Pada tahun 2013 terdapat (18)
delapan belas provinsi yang mempunyai prevalensi penyakit Asma melebihi angka
nasional, dari 18 provinsi tersebut 5 provinsi teratas adalah Sulawesi Tengah,
Nusa Tenggara Timur, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan.
Sedangkan provinsi yang mempunyai prevalensi penyakit Asma di bawah angka
nasional, di mana 5 provinsi yang mempunyai prevalensi Asma terendah yaitu:
Sumatera Utara, Jambi, Riau, Bengkulu, dan Lampung.
C. Faktor
Risiko
Risiko berkembangnya asma
merupakan interaksi antara faktor pejamu (host) dan faktor lingkungan
Faktor pejamu tersebut
adalah:
a)
predisposisi genetik asma
b)
alergi
c)
hipereaktifitas bronkus
d)
jenis kelamin
e)
ras/etnik
Faktor lingkungan dibagi 2,
yaitu :
a. Yang mempengaruhi
individu dengan kecenderungan /predisposisi asma untuk berkembang menjadi asma
b. Yang menyebabkan
eksaserbasi (serangan) dan/atau menyebabkan gejala asma menetap.
Faktor lingkungan yang
mempengaruhi individu dengan predisposisi asma untuk berkembang menjadi asma
adalah :
a)
alergen di dalam maupun di luar ruangan, seperti mite
domestik, alergen binatang, alergen kecoa, jamur, tepung sari bunga
b)
sensitisasi (bahan) lingkungan kerja
c)
asap rokok
d)
polusi udara di luar maupun di dalam ruangan
e)
infeksi pernapasan (virus)
f)
diet
g)
status sosioekonomi
h)
besarnya keluarga
i)
obesitas
Sedangkan faktor lingkungan
yang menyebabkan eksaserbasi dan/atau menyebabkan gejala asma menetap adalah :
a)
alergen di dalam maupun di luar ruangan
b)
polusi udara di luar maupun di dalam ruangan
c)
infeksi pernapasan
d)
olah raga dan hiperventilasi
e)
perubahan cuaca
f)
makanan, additif (pengawet, penyedap, pewarna makanan)
g)
obat-obatan, seperti asetil salisilat
h)
ekspresi emosi yang berlebihan
i)
asap rokok
j)
iritan antara lain parfum, bau-bauan yang merangsang
D. Etiologi dan Patogenesis
Hiperaktivitas bronkus
merupakan ciri khas asma. Pencetus serangan asma dapat disebabkan oleh sejumlah
faktor antara lain alergen, virus, dan iritan yang dapat menginduksi respon
inflamasi akut yang terdiri atas reaksi asma dini (early asthma reaction) dan reaksi asma lambat (late asthma reaction). Setelah reaksi asma awal dan reaksi asma
lambat, proses dapat terus berlanjut menjadi reaksi inflamasi sub-akut atau
kronik. Pada keadaan ini terjadi inflamasi di bronkus dan sekitarnya, berupa
infiltrasi sel-sel inflamasi terutama eosinofil dan monosit dalam jumlah besar
ke dinding dan lumen bronkus.
Penyempitan saluran napas
yang terjadi pada asma merupakan suatu hal yang kompleks. Hal ini terjadi
karena lepasnya mediator dari sel mast yang
banyak ditemukan di permukaan mukosa bronkus, lumen jalan napas dan di bawah
membran basal. Berbagai faktor pencetus dapat mengaktivasi sel mast. Selain sel mast, sel lain yang dapat melepaskan mediator adalah sel makrofag
alveolar, eosinofil, sel epitel jalan napas, netrofil, platelet, limfosit dan monosit.
Inhalasi alergen akan
mengaktifkan sel mast intralumen, makrofag
alveolar, nervus vagus dan mungkin juga epitel jalan napas. Peregangan vagal
menyebabkan refleks bronkus, sedangkan mediator inflamasi yang dilepaskan oleh
sel mast dan makrofag akan membuat
epitel jalan napas menjadi lebih permeabel dan memudahkan alergen masuk ke
dalam submukosa, sehingga memperbesar reaksi yang terjadi.
Mediator inflamasi secara
langsung maupun tidak langsung menyebabkan serangan asma, melalui sel efektor
sekunder eperti eosinofil, netrofil, platelet,
dan limfosit. Sel-sel inflamasi ini juga
mengeluarkan mediator yang kuat seperti lekotriens. Tromboksan, PAF dan protein
sitotoksis yang memperkuat reaksi asma. Keadaan ini menyebabkan inflamasi yang
akhirnya menimbulkan hiperaktivitas bronkus.
E. Klasfikasi
Klasifikasi derajat asma
berdasarkan gambaran klinis secara umum pada orang dewasa:
a.
Derajat asma :
Intermitten
Gejala :
Bulanan; gejala < 1x seminggu, tanpa gejala, diluar serangan, serangan
meningkat
Gejala Malam :
≤ 2 kali sebulan
Faal Paru : APE ≥ 80%; VEP1 ≥ 80% nilai
prediksi APE ≥ 80% nilai terbaik, variabiliti APE≤ 20%
b.
Derajat asma :
Persisten Ringan
Gejala :
Mingguan; gejala > 1x/minggu tapi < 1x/hari, serangan dapat mengganggu
aktivitas dan tidur
Gejala Malam :
> 2 kali sebulan
Faal Paru : APE > 80%; VEP1 ≥ 80% nilai
prediksi APE ≥ 80% nilai terbaik, variabiliti APE 20-30%
c.
Derajat asma :
Persisten Sedang
Gejala :
Harian; gejala setiap hari, serangan mengganggu aktivitas dan tidur,
membutuhkan bronkodilator setiap hari
Gejala Malam :
> 2 kali sebulan
Faal Paru : APE 60-80%; VEP1 60-80% nilai
prediksi APE 60-80% nilai terbaik, variabiliti APE >30%
d.
Derajat asma :
Persisten Berat
Gejala :
Kontinu; gejala terus-menerus, sering kambuh, aktifitas fisik terbatas
Gejala Malam :
Sering
Faal Paru : APE ≤60%; VEP1 ≤60% nilai
prediksi APE ≤60% nilai terbaik, variabiliti APE >30%
F. Gejala
Gejala asma bersifat
episodik, seringkali reversibel dengan/atau tanpa pengobatan. Gejala awal
berupa :
a) batuk terutama pada malam
atau dini hari
b) sesak napas
c) napas berbunyi (mengi) yang
terdengar jika pasien menghembuskan napasnya
d) rasa berat di dada
e) dahak sulit keluar.
Gejala yang berat adalah
keadaan gawat darurat yang mengancam jiwa. Yang termasuk gejala yang berat
adalah:
a) Serangan batuk yang hebat
b) Sesak napas yang berat dan
tersengal-sengal
c) Sianosis (kulit kebiruan,
yang dimulai dari sekitar mulut)
d) Sulit tidur dan posisi
tidur yang nyaman adalah dalam keadaan duduk
e) Kesadaran menurun
G. Pemeriksaan Fisik
1.
Inspeksi: pasien tampak gelisah, sesak (napas cuping
hidung, napas cepat, retraksi sela iga, retraksi epigastrium, retraksi
suprasternal), sianosis
2.
Palpasi: biasanya tidak ada kelainan yang nyata (pada
serangan berat dapat terjadi pulsus paradoksus)
3.
Perkusi: biasanya tidak ada kelainan yang nyata
4.
Auskultasi: ekspirasi memanjang, wheezing, suara
lendir
H. Pemeriksaan Penunjang
1.
Pemeriksaan fungsi pemeriksaan penunjang yang
diperlukan untuk diagnosis Asma faal paru dengan alat spirometer
2.
Pemeriksaan arus puncak ekspirasi dengan alat peak
flow rate meter
3.
Uji reversibilitas (dengan bronkodilator)
4.
Uji provokasi bronkus, untuk menilai ada/tidaknya
hiperaktivitas bronkus
5.
Uji Alergi (Tes tusuk kulit/skin prick test) untuk menilai ada tidaknya alergi
6.
Foto thorax, pemeriksaan ini dilakukan untuk
menyingkirkan penyakit lain selain asma
I. Penatalaksanaan Medis-Non
Medis
Tujuan utama penatalaksanaan asma adalah meningkatkan
dan mempertahankan kualitas hidup agar pasien asma dapat hidup normal tanpa
hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Tujuan penatalaksanaan asma :
1. Menghilangkan dan
mengendalikan gejala asma
2. Mencegah eksaserbasi akut
3. Meningkatkan dan mempertahankan
faal paru seoptimal mungkin
4. Mengupayakan aktiviti
normal termasuk exercise
5. Menghindari efek samping
obat
6. Mencegah terjadinya
keterbatasan aliran udara (airflow limitation) ireversibel
7. Mencegah kematian karena
asma
Terapi Non-Medis:
1.
Edukasi
Komunikasi yang baik adalah
kunci kepatuhan pasien, upaya meningkatkan
kepatuhan pasien dilakukan
dengan :
·
Edukasi dan mendapatkan persetujuan pasien untuk
setiap tindakan/penanganan yang akan dilakukan. Jelaskan sepenuhnya kegiatan dan
manfaat yang dapat dirasakan pasien
·
Tindak lanjut (follow-up).
Setiap kunjungan, menilai ulang penanganan yang diberikan dan bagaimana pasien
melakukannya. Bila mungkin kaitkan dengan perbaikan yang dialami pasien (gejala
dan faal paru).
·
Menetapkan rencana pengobatan bersama-sama dengan
pasien.
·
Membantu pasien/keluarga dalam menggunakan obat asma.
·
Identifikasi
dan atasi hambatan yang terjadi atau yang dirasakan pasien, sehingga pasien
merasakan manfaat penatalaksanaan asma secara konkret.
·
Menanyakan kembali tentang rencana penganan yang
disetujui bersama dan yang akan dilakukan, pada setiap kunjungan.
·
Mengajak keterlibatan keluarga.
·
Pertimbangkan pengaruh agama, kepercayaan, budaya dan
status sosioekonomi yang dapat berefek terhadap penanganan asma
2.
Pengukuran peak flow
meter
Pada asma mandiri
pengukuran APE dapat digunakan untuk membantu
pengobatan seperti :
a)
Mengetahui apa yang membuat asma memburuk
b)
Memutuskan apa yang akan dilakukan bila rencana
pengobatan berjalan baik
c)
Memutuskan apa yang akan dilakukan jika dibutuhkan
penambahan atau penghentian obat
d)
Memutuskan kapan pasien meminta bantuan
medis/dokter/IGD
3.
Identifikasi dan mengendalikan faktor pencetus
4.
Pemberian oksigen
5.
Banyak minum untuk menghindari dehidrasi terutama pada
anak-anak
6.
Kontrol secara teratur
7.
Pola hidup sehat
Dapat dilakukan dengan :
a.
Penghentian merokok
b.
Menghindari kegemukan
c.
Kegiatan fisik misalnya senam asma
Terapi Medis:
1.
Simpatomimetik (Albuterol, Bitolterol, Efedrin,
Epinefrin, Isoetharin, Isoproterenol, Metaproterenol, Salmeterol, Pirbuterol,
Terbutalin). Kerja
farmakologi dari kelompok simpatomimetik ini adalah sebagai berikut :
a) Stimulasi reseptor α adrenergik
yang mengakibatkan terjadinya vasokonstriksi, dekongestan nasal dan peningkatan
tekanan darah.
b) Stimulasi reseptor β1 adrenergik
sehingga terjadi peningkatan kontraktilitas dan irama jantung.
c) Stimulasi reseptor β2 yang
menyebabkan bronkodilatasi, peningkatan klirens mukosiliari, stabilisasi sel
mast dan menstimulasi otot skelet.
2.
Xantin (Aminofilin, Teofilin, Difilin dan Oktrifilin).
Indikasinya untuk menghilangkan gejala atau pencegahan asma
bronkial dan bronkospasma reversibel yang berkaitan dengan bronkhitis kronik
dan emfisema.
3.
Antikolinergik (Ipratropium Bromida, Tiotropium
Bromida)
4.
Kromolin Sodium dan Nedokromil (Kromolin
Natrium, Nedokromil Natrium)
5.
Kortikosteroid, obat ini merupakan steroid
adrenokortikal steroid sintetik dengan cara kerja dan efek yang sama dengan
glukokortikoid. Glukokortikoid dapat menurunkan jumlah dan aktivitas dari sel
yang terinflamasi dan meningkatkan efek obat beta adrenergik dengan memproduksi
AMP siklik, inhibisi mekanisme bronkokonstriktor, atau merelaksasi otot polos
secara langsung.
6.
Antagonis Reseptor Leukotrien (Zafirlukast,
Montelukast Sodium, Zilueton,
7.
Obat-obat penunjang (Ketotifen Fumarat,
N-Asetilsistein)
Sumber:
1. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2015. You Can Control Your Asthma. www.depkes.go.id
2. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI. 2007. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Asma. www.binfar.kemkes.go.id
3. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular. 2009. Pedoman Pengendalian Penyakit Asma. Jakarta: Dp




0 komentar:
Posting Komentar